CERPEN 5M

hahaha

  • Home
  • Quote gua
  • CERPEN
  • DAFTAR ISI
  • OPINI
  • TENTANG BLOG
Home » CERPEN
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Monday, 2 June 2014

Sekarang Kalian tak bisa membullyku lagi

bullying di sekolah

     Uangku tinggal tujuh ribu. Harusnya ini  kubelikan  bakso buat mengganjal perutku. Sialnya tadi pagi aku tergesa ke sekolah sehingga aku tidak sempat makan dan perutku keroncongan begini.
    "Ko !  jadi nggak beli baksonya !" Pak Maman menimbang-nimbang  mangkok bakso dan melihatku ragu-ragu.
    "He,..gak jadi Pak, beli itu aja..es jeruk sama, donat lima aja Pak !" aku merenges sambil menunjuk ke kaca kotak donat. Yoyon suka donat dan es jeruk, jadi kubelikan untuknya. Segera aku membayar pada Pak Maman setelah mendapatkan makanan itu.

      Aku berlari menuju ke kelasku. Istirahat pertama aku melihat Yoyon di halaman kelas. Dia seperti biasa dikerumuni teman-temanku, dan aku harus ikut bergabung dengan mereka. Kalau enggak aku akan duduk di pinggir kelas sendirian, terkucilkan dan aku tidak ingin seperti itu. Nanti teman-teman perempuanku akan menanyakan dan mengira aku sakit.

      Aku berjalan dengan kaku ke arah kerumunan. Dan Yoyon segera menyambutku dan merebut es di tanganku dan juga donat itu.  Aku berharap dia senang dan aku diterima nongkrong bersama mereka. Tapi hati Yoyon mungkin sedang tidak enak, dia malah menyemburkan air es jeruk itu ke wajahku. Dan teman-temanku menertawakanku.  Sial, aku malu sekali saat itu. Aku hanya menundukkan kepala.

"He, cebol !.......donatnya gak enak, kamu belinya yang murahan sih !" semprot Fajar. Dia mengunyah donat itu, dan membagikan pada Sufi,  Rudi dan juga Gading. Mereka menghabiskan donat itu dan tidak membagikan padaku, padahal perutku lapar sekali waktu itu. Dan itu adalah makananku dan mereka sudah mengambilnya, tapi tidak apa-apa asalkan Yoyon mau tersenyum padaku, tapi dia tidak. Yoyon bermuka masam, seolah ingin memukulku. Aku takut dia menghajarku lagi seperti waktu  kemarin.. Aku merasa tulangku linu, aku masih merasakan sakitnya dipukul Yoyon.


       Aku pun memilih menyingkir dari tempat itu. Aku teringat saja  hari itu. Aku berjalan cepat sambil menunduk. Dan kepalaku mendadak pusing. Aku merasa susah bernafas.  Aku berjalan sempoyongan ke dalam kelas, dan aku jatuh terhempas di kursiku. Aku pingsan.

        Aku melihat, dalam kegelapan, aku melihat diriku di pinggir jalan. Waktu itu hanya ada sedikit sinar bulan, aku melihat Yoyon , Sufi , Gading dan Rudi tertawa menyeringai ke arahku. Mereka membawa bambu, mereka pasti akan melukaiku lagi. Tapi kenapa tiba-tiba tanganku menggigil, dan aku merasa  mau meledak. Tangaku tiba-tiba membesar, kepalaku membengkak, dan  aku berubah menjadi raksasa, ya seperti Hulk saja, tubuhku yang kecil berubah menjadi sebesar pohon akasia di depan sekolah, dan Yoyon  mundur ketakutan. Yoyon, Sufi dan Rudi berlari dan aku mengejar mereka, aku meraih tubuh mereka, dan tubuh mereka aku hancurkan, sekarang mereka tidak bisa melukaiku lagi, dan tidak ada yang membuatku takut di sekolah itu.

      Aku terbangun sambil tersenyum. Aku kaget, ternyata aku berada di ruang UKS.
      "Ko, kamu tidak apa-apa, kamu sakit apa, Ko ?"    Ratna menyentuh dahi kepalaku, di sela-sela rambut poniku  terlihat  goresan. Aku mengira lukaku seminggu yang lalu sudah mengering, tapi ternyata masih ada bekasnya.
      Aku melihat di situ anak-anak mengerubungiku. Dan aku melihat di kejauhan  sosok Yoyon di deretan paling belakang. Suara hatiku menjerit   mengatakan sesuatu. Tapi mulutku terkunci. Aku tidak berani mengatakan sesuatu pada mereka. Itu lebih aman buatku. Setidaknya untuk beberapa hari ini aku ingin tenang.


         Tapi tetap saja mereka tidak menerimaku.  Mereka terus menekanku sampai akhirnya meletuslah kemarahanku. Aku tidak ingin selalu tertindas. Biar saja Yoyon dan kawan-kawanku membenciku, tapi tidak untuk sarapan yang dibuatkan ibuku. Nasi goreng dalam kotak bekal itu, mereka meledeknya, dan aku tidak rela karena itu adalah bikinan ibuku.
         "Nasi goreng hahha, nasi mambu !"  sela  Rudi.
          "Bau aja , basi tahu ! makan nasi basi !"  Yoyon ketawa terbahak sambil menunjuk ke kotak makananku. Dan semua teman-temannya pun ikut tertawa.
         "Gak lucu  ! gila kalian , ini nasi goreng terlezat, tahu !"  ujarku sambil menyeringai frustasi. Dan aku merasa lega. Untuk pertama kali aku bisa membuat mereka merah padam. Dan aku kaget dengan keberanianku tadi. Aku pun tidak tahu, datang dari mana kekuatan kata-kata itu. Sekarang aku tersenyum, seolah aku yang menang, seolah aku bukan kecoa lagi. Aku adalah singa, dan mereka adalah monyet.

           Tapi efeknya  tidak baik bagiku,  pulang sekolah mereka sudah menantiku.  "Ko !" teriak mereka memanggiku. Sepatu mereka bergedebuk  menghampiriku. Aku hanya menoleh sebentar ke arah mereka lalu tetap berjalan pulang  menyusuri jalan dan berusaha tidak mempedulikan mereka. Aku menundukkan kepala  dengan dada berdebar karena takut, sial kenapa aku kembali  merasa ketakutan  menghadapi mereka, dan aku melihat kaki mereka berjalan  cepat  merapat di sampingku dan mencoba menjejeriku. "Ko!!  mana uang  buat beli mie ayam !" desak mereka.
          "Sekarang ,Ko !" sentak Galih.
          "Aku tak punya uang !"   ujarku berbohong. Aku menelusupkan  tanganku ke kantong celanaku.
            Tiba-tiba Yoyon menangkap pinggangku, kemudian Fajar, dan Sufi menyambar dan mencengkeram  lengan tanganku. Aku tak bisa bergerak. Yoyon merogoh sakuku, dan dia menemukan uangku."Ini apa ? !" mata Yoyon tajam menatapku  "Pembohong, ! hajar dia !"   perintah Yoyon.

        Aku dapat merasakan kemurkaan Yoyon dari jotosan tangan Yoyon ke wajahku. Fajar, Sufi , Gading serta Rudi  pun berteriak kesal terhadapku. Mereka lalu memukul perutku. Aku mencoba melawan mereka, tapi aku kalah. Mereka lebih kuat  dariku dan jumlah mereka banyak. Mereka lalu menarik tanganku  di pinggir jalan dan memaksaku berjalan ke tempat sepi dan sejauh mata memandang dikelilingi ladang jagung. Waktu itu berlalu cepat dan aku merasa lemas,  mataku sakit. Perih di sana sini. Ada darah menetes lagi di kepalaku. Aku tersungkur terlentang di tanah.
        "Yon ! Eko tidak bernafas !"   pekik Sufi tiba-tiba dan dia melepas tanganku yang kaku.
         Yoyon, Fajar dan Rudi terperangah.

           Aku terkapar di tanah, dan aku melihat sinar matahari menyilaukanku.Aku berharap ada yang melihat perbuatan mereka terhadapku  Tapi tempat itu terlalu sepi dan hanya ada  burung-burung beterbangan di angkasa, warnanya putih dan burung-burung itu tak bisa menolongku. Mereka akhirnya menghentikan pukulan terhadapku mungkin mereka sudah puas dan juga sudah merasa capek memukulku. Yang jelas aku diam tergolek saja ketika  mereka berlari meninggalkanku .
         Aku hanya tesenyum, aku melihat ke langit, pada awan putih, mereka bergumpal-gumpal seolah menjemputku. Aku pergi terlalu cepat, maafkan aku teman, sekarang aku lebih bahagia kayaknya karena awan putih itu akan membawaku ke tempat impianku, di mana tidak ada kesedihan, hinaan, kekerasan, dan juga pemaksaan terhadapku

ILUSTRASI GAMBAR : VIDEO PENDEK HUNTER







Wednesday, 7 May 2014

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Mengundurkan Diri

     
terima kasih guruku

   "Aku sudah tidak kuat, setelah mendapatkan  tunjangan fungsional aku mau mundur ?"   kata Bu Atun.
     Sore itu bu Atun datang ke rumah siti Hajar, dia mau meminjam uang.  Sudah biasa dia meminjam uang sana sini. Teman-temannya sampai bosan. Sebenanrya dia  malu, meminjam uang pada orang yang masih lajang dan juga punya kebutuhan juga, tapi dia tidak ada yang lain dan Siti Hajar, dia memiliki rasa iba yang tinggi. Dan Bu Atun sudah kehabiasan tempat untuk utang, bahkan pada rentenir. Dan dia pun kali ini sedang dalam rangka melarikan drii dari kejaran penagih utang. Sudah lima jam, dia mematikan hape nya supaya dia dapat hidup tenang sebentar saja. Dan kali ini Keponakannya sakit, dan dia tidak punya biaya untuk membayar biaya perobatan untuk pulang. Dan dia terpaksa tadi pinjam uang pada bidan puskesmas untuk menebus biaya perawatan. Dan hari ini dia juga perlu uang untuk mengembalikan  pada orang yang mengancamnya di rumah. Aduh, kepalanya pusing memikirkan uang.
      "Wah, kenapa ?"  Siti Hajar guru honorer dan masih muda itu  memandang teman satu profesinya itu dengan tatapan tidak percaya. Tapi meskipun begitu, harusnya ia tidak begitu terkejut. Ia juga sudah lama membayangkan hal itu terjadi pada dirinya. Setelah sepuluh tahun menjadi guru, ia mau mundur dari pekerjaanya. Ia sudah bosan. Sama sekali tidak ada penghargaan. Orang-orang yang menyekolahkan anaknya sekarang susah diatur, dan anak-anak semakin bandel luar biasa.

   "Pokoknya aku sudah tidak tahan dengan orang-orang kaya itu."
    Siti hajar terdiam lalu dia kembali mengeluarkan suara. Ia seperti bertanya kepada dirinya sendiri. "Kalau keluar , Bu Atun mau ngapain ? mau dagang di pasar ?"
    "Ya, itu lebih baik, menjadi tukang rongsok atau pedagang sudah jelas penghasilannya, tidak seperti guru honorer !"  kesal Bu Atun dengan tatapan putus asa.
   Siti Hajar menghela nafas panjang. Dia lalu mengulurkan uang tiga ratus ribu pada Bu Atun, dan dia pun berpesan agar Bu Atun segera kalau bisa secepatnya mengembalikan uang tersebut. Lalu setelah mengucapkan terimakasih Bu Atun pamit pulang.

   Satu bulan kemudian Bu Atun benar-benar keluar. Dia sudah tidak mengajar lagi di sekolah itu.
Siti Hajar masih termangu di depan rumahnya. Pagi ini tidak terlalu cerah, tapi dia harus pergi ke tempat dia mengajar. Dan dia mengeluarkan sepeda, lalu mengayuhnya di jalanan. Jilbabnya pun berkibar dan dia tersenyum pahit pada orang-orang dan anak-anak di jalan yang menyapanya. anak memakai seragam SD dan bersahut-sahutan memanggilnya. "Selamat pagi bu guru,..!"  Assalamualaikum Bu Guru !"

   Siti hajar sudah bulat dia hari ini akan mengudurkan diri juga. Amplop berisi surat pengunduran diri sudah dia siapkan di tasnya. Dia pun meletakkan di meja kepala sekolah. Dia kemudian beranjak dari kantor yagn masih sepi. Dia ingin bertemu dengan murid-muridnya untuk terakhir kalinya.
 
   Siti Hajar menghampiri Agus. Ya, anak itu tersenyum kepadanya. Dia mengambilkan kapur untuk dirinya nanti. Siti Hajar mendengus. "Hai Agus, kamu baik sekali ya ?"
    "Maksud bu hajar apa ? bukankah ibu selalu mengajarkan kita harus baik ?"
    Siti Hajar termangu, dia teringat siapa Agus. Dia anak paling bandel sekelas. Dan dia adalah biang onar. Dan tidak ada yang bisa mengendalikannya. Dan suatu kali siti hajar sangat marah padanya. Agus dimarahinya sampai dia menangis dan dia setrap tidak boleh pulang bersama teman-temannya. karena siti hajar tidak suka marah,  dia sangat menyesal dan takut kalau Agus mogok tidak mau sekolah.
   Tapi esok harinya, di luar dugaan Agus tetap sekolah dan dia berubah seratus tujuh puluh derajat , menjadi anak yang sangat mudah bekerja sama. dan  dia lalu menjadi teman baik bu siti hajar. Dan tentu saja semua anak di kelas itu semua sayang pada  bu siti hajar.
   "Meski berat, aku akan  meninggalkan sekolah ini," kata siti hajar dengan ragu-ragu. Dia ingin sekali kerja di luar negeri, mungkin menjadi TKW di Malaysia atau di Arab lebih baik untuknya.

     Siti Hajar lalu pergi ke ruangan kantornya. dan Pak kepala sekolah memanggilnya tentu saja berhubugnan dengan pengunduran dirinya yang mengejutkan itu.

  Sementara di kelas 2 anak-anak berkumpul, "Hei, semua dah tahu, hari ini adalah ulang tahun bu siti hajar, mari nanti kita kompak nyanyinya ya..?"
   "lilinnya sudah disiapkan
   "kamu  hafal yagn diucapkan nanti ?"
    "Untuk guru ku tanpa tanda jasa, selamat ulang tahun, semoga hidupnya semakin berkah dan bermanfaat bagi kami."
    "horee ..semua sudah hafal semua." teriak mereka.

TAMAT

Sunday, 4 May 2014

Bunga Matahari, Bunga Ilalang dan Bunga Dandelion

Kakak, kalau boleh memilih kakak memilih yang mana, antara bunga matahari, bunga ilalang dan bunga dandelion ? Kakak pasti bingung memilihnya,

Aku pikir , Kakak akan suka bunga matahari, aku akan membelinya untuk kakak.
Aku pikir, bunga matahari itu seperti kakak,

cerita kehidupan

Bunga matahari itu mengajarkan ketegaran dalam hidup. Kita tidak boleh menyerah dalam menghadapi masalah dalam hidup kita, seberat apapun masalahnya. Seperti bunga matahari, kita juga harus dengan berani menatap Sang Mentari, menapak hari esok. Karena matahari tidak hanya bersinar untuk kita, dan tetap harus berusaha menemukan cahaya kehidupan untuk membantu kita menjadi kuat dan kokoh.
Bunga matahari itu tetap tersenyum  meskipun hatinya remuk. Bunga matahari pandai menyembunyikan perasaannya, menyembunyikan cintanya  karena pikir itu yang terbaik.

 Kalau aku itu suka bunga dandelion Kak, Bunga  Dandelion, meski terlihat lemah tapi dia ternyata sangat kuat. Ketika dihembus angin , dia akan mudah jatuh atau beterbangan. Dia memilih untuk menyerah  tidak melawan angin atau apapun, tapi kekuatan iklasnya sungguh luar biasa. Dia mudah menangis, tapi dia tetap tegar menghadapi apapun yang dihadapinya.
cerpen

Dan jika ia memang harus diterbangkan oleh sang angin, ia rela dan dia tidak akan bersedih. Karena ia tahu meskipun diterbangkan oleh angin dan tak tahu kemana arah terbangnya, dia juga tidak takut jika nantinya setelah deterbangkan oleh sang angin ia harus tertinggal ditanah yang gersang, di tepi jalan berbatu, bahkan dihimpit semak berduri, dia tetap tegar dan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup.

Of course,   kaka lebih  suka dengan bunga ilalang atau rumput ilalang, kenapa Kak ? 
ternyata bunga ilalang itu  meskipun mudah menyerah tapi dia akan bangkit lagi. Dia  tidak seindah bunga mawar, tidak  ada yang suka dan  tidak banyak diperhatikan dan sepertinya tidak berguna, tapi tidak banyak  yang tahu, kalau tanaman  itu punya kekuatan yang luar biasa, akarnya bisa menahan air dan semakin tua semakin akarnya kuat dan tidak mudah tercerabut.


bunga matahari, bunga ilalang , bunga dandelion


happy birthday 5 mei 2014...
*rd : yang tulisan garis miring di atas saya ambil dari kompasiana, trmkasih)****

Tuesday, 29 April 2014

2 + 2 = 5

Pagi kami sekolah. Ini suasana yang sangat kami inginkan, ngobrol dengan teman yang lain. Riuh, penuh canda dan obrolan , tapi sayang itu hanya sebentar saja. Karena  kelas terlalu meriah, kami tidak mendengar langkah kaki  sepatu Pak Guru. Aku dan Akhmad kaget ketika pintu kelas di buka. Dan spontan kami menghentika suara, dan berdiri tegap. Kami anak kelas lima berseragam celana hitam dan kemeja putih dan berdiri  hormat siap belajar dengan pak Kamal.

Kami segera ingin duduk, tapi pak Kamal tangannya belum mengijinkan, beliau menunjuk ke jam tangannya, dan karena pelajaran harus tepat waktu, dan pak Kamal datang lebih awal. Jam berdetak dan ketika menunjuk jarum jam di angka 12, beliau segera memperingatkan kami untuk mendengarkan ceramah pak kepala lewat pengeras suara.

Selamat pagi, murid-murid. Saya kepala sekolah memberi nasehat agar kalian belajar dengan baik, harus tunduk dengan guru, dan tidak boleh melawan, maka itulah murid yang cerdas, dan sukses untuk kalian semua.

Setelah Pak Kepala mengakhiri pidatonya lewat pengeras suara, kami segera dipersilahkan duduk. Pak Kamal matanya menyelidik, dan tidak memperbolehkan siapapun untuk tidak memperhatikan pelajaran. Kemudian Pak Kamal  memungut kapur putih dan menulis angka.

2 + 2 =  5



kami saling pandang dan tidak percaya dengan yang ditulis Pak Kamal di papan tulis.
"Diam !!"   Suara bentakan Pak Kamal  tersebut langsung meredakan bisik -bisik kami.
Setelah tubuh kami mengkerut. Pak Kamal kembali bersuara. "Dua ditambah Dua sama dengan LIMA. Ingat, Dua ditambah Dua sama dengan ..........." (Pak Kamal memancing kami untuk meneruskan jawaban soal itu)

"IIMA..."   kami menjawab dengan berat.
"Ulanggi sekali lagi. dua ditambah dua sama dengan "
"Lima"
"Yang keras lagi. Dua ditambah dua sama dengan
 "LIMA!"
"ulangi lagi kurang keras !
DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA !!


"Maaf, Pak ! bukankah  dua ditambah dua sama dengan empat." Soleh  berdiri dan berbicara dengan gemetar.. Kami pun mengangguk dan mendukung Soleh.
"TIDAK, DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA !" terang Pak Kamal dengan tatapan tajam ke arah Sholeh.
"Tapi menurut  pikiran saya,"  kata Soleh terbata. "Dua ditambah dua sama dengan empat !"
"SIAPA SURUH KAMU BERPIKIR ! KAMU TIDAK BOLEH BERPIKIR !"  sentak Pak Kamal. "Sekarang duduk kembali !" perintah Pak Kamal.
"Ya , Pak !" lemah sholeh.
"Sekarang ambil buku catatan kalian dan tulis,"
kami pun segera mengeluarkan buku kami dari dalam laci, dan siap menulis.
Pak Kamal mendikte kami ,  "DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA."

"Pak, dua ditambah dua sama dengan empat !" tiba-tiba Akhmad di sebelahku berdiri. Aku kaget sekali. memang dari tadi kulihat Ahmad duduk gelisah dan ingin membantah penjelasan Pak Kamal tadi.
"Pak, dua ditambah dua adalah empat, dan selamanya dua ditambah dua itu empat !"  jelas Akhmad.

Pak Kamal terkejut. Dan emosinya melesat naik. "Siapa yang memberi ijin kamu berbicara, Nak !"
"Tapi, Pak.."
 "Apakah kamu tidak mendengarkan tadi, dua ditambah dua sama dengan lima."  sentak Pak Kamal sambil menunjuk ke papan tulis. "DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA, AYO KATAKAN !'
"Tapi Pak, menurut pendapat saya.."  potong  Akhmad. Kami pun menjadi sangat tegang karena Akhamd terus melawan Pak Kamal.
"KATAKAN dua ditambah dua samadengan lima !"  paksa Pak kamal.
tapi Akhmad tidak mau, dia memegang prinsipnya, dia yakin dua ditambah dua itu empat, dia pun ingin menunjukkan nya pada teman-temannya.kalau dia benar.  'DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN EMPAT !"  Akhmad  menjelaskan  pada teman-temannya dengan memperagakan dua jari kanan dan dua jari kirinya dan digabungkan.
"DIAM !" marah pak Kamal dengan mulut melebar.
"Pak, tapi Pak, Bapak juga pasti tahu dua ditambah dua sama dengan empat !" kilah Akhmad.
"CUKUP, DIAM DI TEMPAT !"  Pak Kamal sudah meledak. dia kemudian keluar dari ruangan kelas memanggil anak kelas tinggi.

Ahmad menyilangkan dua tangannya di belakang pantatnya. Dia siap dengna konsekuensinya. kelas berubah riuh dan menyalahkan Akhmad, aku hanya diam saja.Aku tak berani berbicara, aku takut akan terjadi sesuatu dengan teman baikku itu.
"Akmad ! kenapa kamu melawan Pak Kamal ?" desis  Husen.
Akhmad membungkam saja.
"Pasti Pak Kamal akan membunuh kamu  !"  gertak beberapa teman di kelas.
Akhmad tidak meladeni komentar teman-temannya.
Benar saja, Pak Kamal kembali ke ruangan kelas dengan dikawal tiga orang siswa kelas tinggi dengan  tanda merah di lengan kemeja mereka. Dan mereka menyembunyikan senjata di saku celana.
"Ini, siswa yang ngotot  itu !"  Pak Kamal menunjuk ke arah Akhmad dan memberi keterangan pada tiga siswa SMA itu.
"ya, pak !"  jawab anak sma itu.
 "Lihat, anak-anak kelas rendah, ini siswa kelas atas, mereka akan mengajari kalian cara  melakukan penjumlahan !" lalu Pak Kamal  memerintahkan tiga siswa itu menerangkan penjumlahan yang benar.
'DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA !" Kata mereka dengan kompak dan suara mereka seperti suara robot.
"kamu dengar itu Akhmad ? sekarang ..."  Pak Kamal mengambil kapur dan menyodorkannya pada Akmad. " isi  jawaban penjumlahan itu !" Pak Kamal menghapus angka lima dan menawarkan pada Akmad untuk mengisi sesuai keinginanya.
Akmad menelan ludah. Dia melihat ke arah tiga siswa itu yang sekarang  mengambil pistol dan  semua membidik mengarah  kepadanya. "Ini kesempatan terakhirmu, isikan jawaban dari soal tersebut  dan kalau  kamu menjawabnya sesuai keinginanku, kamu  selamat !"  perintah Pak Kamal.

Akmad berpikir, lalu dia tidak punya pilihan lain, tapi dia tetap teguh dengan prinsip dan keyakinannya. Tanpa ragu-ragu dia mengisi jawaban DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN EMPAT ! ya, Akmad terlanjur  menggerakkan kapurnya dan menarik garis membetuk angak EMPAT bukan LIMA. Tidak bisa dirubah lagi, dan Akmad tidak ingin merubahnya. Setelah menulis jawaban itu,  dia pun berdiri dengan tegap ke arah kami, dan tangannya disilangkan ke belakang.

Pak Kamal  menggeram. Lalu dia memberi tanda pada tiga siswa atas tersebut untuk segera mengeksekusi Akmad lalu sedetik kemudian  darah disertai suara tembakan memekakan telingaku. Aku memejamkan mata tidak ingin melihat Akhamd yang terkapar di lantai kelas. Kami semua takut.

"Lihat,  itu pelajaran bagi kalian yang  berani membantah pelajaranku  "  koar Pak Kamal dengan tatapan tajam dan menyuruh kami menatapnya. "Lihat ke arahku !"  sergahnya kepadaku. Aku meringis ngeri bercampur sedih. Dan segera mengambil sikap tunduk pada guru itu.

Pak Kamal kemudian memberi komando pada siswa kelas atas untuk membawa keluar mayat Akmad. Siswa tersebut segera keluar kelas sambil mengotong tubuh Akmad. Kemudian dengan tenang Pak Kamal melanjutkan pelajaran seolah tidak terjadi sesuatu insiden. Kami  harus mengikuti pelajaran tapi masih terbayang peristiwa tadi.

Aku masih melihat percikan darah Akmad di papan tulis hitam itu. lalu Pak Kamal mengambil penghapus dan menghapus jawaban soal Akmad dengan cepat, dan debu kapur bercampur tetesan darah itu menempel di angka empat di papan tulis. Lalu Pak Kamal menghapusnya dan menulis DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA.

"Sekarang buka buku kalian dan catat , dua ditambah dua samadengan lima," perintahnya dengan enteng.
" ulangi lagi, dua ditambah dua sama dengan"
"lima,"
"ulangi lagi, dua ditambah dua sama dengan li.."
"lima !'
"Ulangi !"
"dua ditambah dua sama dengan lima"
"kurang keras lagi..!!!!.DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN.."
"LIMA..!!!!"

Lalu kami mencatat penjumlahan tersebut. Aku pun menulis dengan kepala campur aduk. Antara kesal, sedih, tidak bahagia, tertekan. Ingin sekali aku memberontak. Tapi aku tidak seberani Akmad. Aku pikir temanku itu benar, ya jawaban akhmad itu yang benar. DUA DITAMBAH DUA SAMA DENGAN EMPAT ! tapi kami hanya murid, aku harus menulis sesuai perintah Pak Kamal. Pak Kamal bilang dua ditambah dua itu lima. Aku harus menulis itu atau kami dibunuh . Perlahan keringat menetes di dahiku, aku tiba-tiba mencoret angka lima itu dan menggantinya menjadi ANGKA EMPAT.


tamat.
(disadur dan dioplos dari video film pendek nominated a best short film of 2012 bafta film award)



Friday, 18 April 2014

AKU INGIN SEPATUMU

cerpen motivasi

Anak laki-laki itu berjalan menunduk, dia mencoba menghalau suara-suara orang yang mengejeknya.
"Sepatunya hahaha !"
"LIhat, sepatunya berlobang semua !"   
Setiap orang yang melihat ke arah kakinya, pasti tersenyum dan tak tahan untuk berkomentar tentang sepatunya.

Edwin merengut, Dia berjalan dan memandang sepatunya. Jelek memang, hingga jempol kakinya pun kelihatan, Tidak pantas menjadi sepatu, tapi aku tidak punya yang lain. Umpat  Edwin.

Lalu Edwin  berhenti  dan berdiri di tengah jembatan. Dan memandang ke aliran air. Ingin rasanya dia menceburkan diri ke air itu. Dia melihat bayangan dirinya di air jernih itu. Celananya yang  semata kaki  robek di sana sini dan bajunya yang kucel. Sial kenapa aku dilahirkan menjadi anak miskin. Ujarnya. Dia kemudian berjalan lagi dengan lunglai dan  wajah masam. 

Dia berhenti ketika melihat seorang anak laki-laki sedang duduk sendirian di bangku taman. Anak laki-laki seumur dirinya . Pasti dia anak orang kaya dan sepatunya  bagus sekali. Kata Edwin dalam hati. Mereka saling pandang dengan heran. Karena lelah berjalan, Edwin duduk di sebelah anak laki-laki itu. 

Kamu pasti mau mengejek sepatuku kan, ayo katakan saja ! batin Edwin  kesal. Dia melirik  ke sepatu anak laki-laki itu. Dia ingin sekali memiliki sepatu seperti itu. Pasti bahagia  sekali dirinya kalau memakai sepatu seperti itu dan   tidak ada yang mencemoohnya. Anak laki-laki di sebelahnya kemudian tersenyum pada Edwin dan melambaikan tangan ke arahnya. 

sok ramah,  Edwin mendengus  kesal  pada anak laki-laki itu lalu dia bangkit berdiri dari bangku taman, dan bergegas melangkah pergi dari tempat itu.

Edwin  kembali berhenti dan duduk di rerumputan di bawah pohon rindang. Dia kesal. Dia lelah. Dia kemudian mencopot sepatunya, dan dia menelusupkan tanganya ke dalam sepatu itu dan sepatu itu dimainkannya menjadi boneka yang mempunyi mulut besar.
"Tuhan tidak adil ! kenapa aku dilahirkan seperti ini !" kata sepatu yang kanan
"Betul, tidak ingin menjadi seperti ini !" jawab sepatu yang kiri
"mereka tidak tahu rasanya memiliki sepatu yang jelek !" timpal sepatu yang kanan lagi.

Edwin kemudian menghempaskan kedua sepatunya ke tanah. Dia menghela nafas panjang dan dia merasa putus asa.  Dia ingin sekali menjadi anak laki-laki yang duduk di taman itu. Dia kemudian menekuk kakinya dan membenamkan kepalanya  sambil berdoa. "Tuhan aku ingin seperti anak laki-laki itu, Tuhan, aku ingin memakai sepatu seperti anak laki-laki itu !" Geramnya. Dan .......................

Seperti bermimpi. Edwin tiba-tiba sekarang sudah duduk di bangku taman. Dia memandang dirinya. Menakjubkan. Dia memakai kaos yang sangat nyaman dan celana yang bagus. dia kemudian melihat ke arah kakinya. Hebat ! kakinya nampak berjuntai indah dengan sepatu  yang tidak berlobang. dia memakai sepatu putih mewah itu. Edwin tersenyum  gembira sekali. Dia puas sekali dengan dirinya.
Baru saja edwin menikmati keadaan dirinya yang berubah itu, Edwin tersentak oleh suara anak laki-laki. Edwin melihat  di kejauhan anak laki-laki itu berlarian di atas rerumputan. Horee ! horee ! pekik anak laki-laki  itu kegirangan. Yah, dia anak laki-laki yang tadi  duduk di bangku taman, sekarang  memakai baju dan celana sobek dan dia berlompatan kesana kemari dengan riangnya dengan sepatu yang berlobang ujungnya. "hahaha, terimakasih Tuhan !" ujar bocah laki-laki itu dengan wajah sangat bahagia.

 kenapa dia seperti sangat senang dengan sepatu buntut itu. Edwin betul-tetul tidak mengerti.
"Tuan !"
Edwin  menoleh ke sampingnya. Seorang wanita  berpakaian pelayan memanggilnya. Dia mendorong kursi roda.
"Tuan, sudah saatnya Tuan kembali ke rumah  !" kata  wanita tua  itu sambil  berjalan mendekatinya, memandangnya iba dan mengantarkan kursi roda ke arahnya.
Edwin bingung. Dia melihat ke arah kakinya yang susah sekali di gerakkan. Edwin tidak percaya dengan keadaan dirinya dan dia membuka mulutnya, dia  ingin berbicara tapi tidak ada  suara yang berhasil dia keluarkan. Edwin kemudian didudukkan di kursi roda dan   wanita itu mendorong kursi rodanya kembali ke rumahnya


TAMAT 
inspirasi video inspirasi..hee.

Saturday, 22 February 2014

SUARA HATI NADIA

cerpen remaja


“Damm !  pusing sekali,” aku berjalan sedikit terhuyung sambil memegangi  keningku.  Sepertinya ada benda seperti mikcropon hidup di dalam otakku, ya seperti radar. Dan  itu seperti mengudak isi otakku, dan aku tidak tahu apa ini penyakit atau apa. Aku mendengar suara-suara berisik di sana-sini. Seperti  volume yang diputar-putar ke level tertinggi.

 “Kamu gak apa-apa, Dit ?"  tanya Rahman kepadaku.  Wajahnya cemas menatapku.

“Gak apa-apa,” jawabku ngeles. Aku lalu tersenyum, dan mencoba berdiri memperbaiki  langkahku dan aku sudah berjalan dengan tegak, menuju ke ruang pespus.

“Ya udah, aku ke anak-anak nongkrong ?”  kata  Rahman lalu kami berpisah di koridor.

 “Ntar aku nyusul,”  seruku sambil mengacungkan majalah music yag aku pinjam di perpus ke arah Rahman yang hanya tersenyum menuju ke ruang basket.

  Ada apa dengan otakku. Kenapa dua hari ini  aku sering merasakan suara berdenging. Sering aku mendengar suara sepeti orang berkata-kata di telingaku. Tapi aku tidak yakin dengan pikiranku. Yah,  aku seperti dapat mendengar suara hati orang. Ah, tapi itu terlalu gendeng kalau aku menyakini hal itu. Mungkin memang karena  telingaku sedang  tidak beres gara-gara keseringan  ngebuk drum dan main di studio music.

    “Mana bu Yani ?”  kataku ketus ketika masuk ke ruang perpus. Dan di ruang itu sepi, hanya ada gadis jelek dan kampungan itu yang duduk di kursi perpus, membaca buku novel. “ aku ini mau cepetan tau !  teman-teman aku udah nunggu di ruang basket !”  seruku sambil melotot ke arah Nadia.  
     Nadia budek atau apa ? dia hanya menatapku sebentar lalu melengos dan kembali menekuni bukunya.
    Damm ! aku lalu menyeret punggung kursi dan duduk di depan Nadia. “Kamu  tuli, ya ?!”

    “Aku punya nama , Bego !”  Nadia melotot  dengan berani. Dia mengimbangi suaraku.

     Aku menghela nafas panjang. Buku music ku letakkan di meja, dan aku mencoba tenang,  kali ini aku  tidak semangat  perang sama Nadia. “OKe, Nadiaa, mana Bu Yani ?” aku  menurunkan nada suara, tapi masih terdengar kayak orang ngebentak.

    “Dia  ke toilet ! tunggu aja ntar  balik ke sini !”  kata Nadia cuek, dan dia kembali khidmat dengan bukunya.
  
   Aku hanya mendengus. Aku merasa sial aja, di perpus Cuma ama dia aja, gak ada teman yang bisa aku ajak ngobrol (emang nadia bukan temanmu , hah ?) kata suara dari dalam hatiku. Teman, sih, tapi bukan teman kayak dia, dia itu bukan levelku, orangnya terlalu aneh, galak, gak bisa diajak becanda, terlalu serius, gak popular, terlalu pendiam, dingin, gak kayak cewek   yang biasa mudah aku goda. Pokoknya  mending aku sabar aja, nunggu petugas perpus ke sini. Sudah lima menit, dan aku kipas-kipas majalah HAI karena ruangan ber-ac itu mendadak panas. Dan damm ! aku menekan dahiku. kepalaku tiba-tiba seperti tersengat sesuatu, dan aku merasakan serangan sakit di telingaku. Seperti ada yang berbisik-bisik di telingaku.
  

“Orang-orang di sekolah ini semua menyebalkan,  dah  parah banget. My God , Aku gak  semangat lagi sekolah di sini, inginnya tidur aja, lihat wajahnya aja sudah bikin aku ngantuk, apalagi yang namanya Adit dah udah bikin  badmood, gak ada ramah-ramahnya dia. Membayangkan aja udah bikin aku muak,  apalagi kalau udah bertemu, ditambah lagi  kalau udah bicara..dan ngobrol. Mending diam aja..dan udahlah semua jadi patung. Aku jadi patung juga buat mereka. jadi lah sepi lah ini gedung. (lalu bagaimana aku ngatasi ini, pindah sekolah..? mana mungkin  diperbolehkan bapak, atau drop out sekolah aja,  gila apa  ? gimana aku bilang sama kakak, dan ijazah sma bisa-bisa melayang..dan kalau  almarhumah nyokap masih ada pasti dia  membentakku..iya lah nyak maafin aku..nanti aku pikirkan lagi caranya.”

Aku menegakkan kepalaku. Aku menoleh ke kanan kiri, gak ada siapa-siapa. Tapi suara itu terdengar sangat jelas. Dan di ruangan ini Cuma ada Nadia dan aku. Apakah tadi tu Nadia yang bicara, tapi mulutnya tidak bergerak. Apakah itu suara hati Nadia.

“Sedih, kalau di rumah  udah kayak di tempat apa gitu huhuhu,  bingung mau ngapain..apalagi kalau ada yang ngomel-ngomel, semua disalahin, gak ada yang sabar, semua main emosi,  aduh bad mood banget. aku benci banget suasana kayak gitu..jadi teringat masa kecil yang suram. lalu gimana caranya, ngekos ? kontrakan ? bikin rumah sendiri ? aha..duit dari mana gitu..? aduh..pusing kalau gitu…huhu ..baru kali ni aku merasa jadi orang aneh , baca novel tapi pikiran kemana-mana .”

 “Hei, Nadia kamu tadi barusan bicara apa  ? kamu tadi bicara kan ?”  tanyaku gusar. Aku berharap Nadia itu bilang iya, soalnya biar aku merasa waras.

  Nadia menoleh dan menatapku dengan heran. Alisnya yang tipis dan lentik melengkung ke bawah. “Nggak bicara apa-apa,”  Nadia mengangkat bahu lalu kembali menekuni bukunya. Kali ini dia nampak berpikir kalau aku pasti tolol dan  sedang berusaha merayunya. Jiah,..lebih baik aku diam saja kalau begini. dan berharap suara itu segera lenyap dan hanya angin lewat saja. Aku ingin  petugas perpus itu segera datang, lalu kabur dari tempat ini.

Jam kembali berdetak di dinding dan aku kembali mendengar suara itu.
Sekarang pertanyaannya, seperti petunjuk dalam buku  hidup semangat, aku harus menghindari atau pergi dari tempat bad mood itu, tapi aku tidak bisa pergi, gimana ya caranya aku sembunyi atau sekedar lari dari mereka..mereka dan masalah selalu ngintil dari depan, belakang dan atasku..huah..tolong aku..???!! belum ada solusi…huff..dan cita –cita, impian apa itu ?aku udah lupa apa itu cita-cita dan impian,  baru aja aku memutuskan kemarin aku berhenti bercita-cita. Aku stop, aku putus asa..(huhaaah)..

          Aku mendelik ke arah wajah Nadia. Nadia sedang membolak-balik halaman buku, tapi sepertinya dia kayak orang emosi.

        oh ya bukankah di sekolah ada ruang sendiri. di situ aku bisa sembunyi dan melakukan aktifitas dan juga tidak peduli dengan mereka. Aku sudah bingung caranya ngerubah mereka.”

     “Nadia ?!”  aku sudah gak kuat. Kepalaku seperti berdengung-dengung penuh oleh suara-suara Nadia. “Kamu sedang dalam masalah, ya ?” tanyaku menyeret kursiku mendekat ke arah depannya. Aku tak peduli hubunganku dengan dia yagn gak pernah akrab.

      “Gak ?”  Sergah cewek kurus berambut kucir itu.  Nadia merasa jengah, dan dia berdiri.
      
      “Tunggu !” Aku mencekal tangan kanan Nadia. Yang mencoba keluar dari kursi. Aku ingin bicara pada Nadia. Tapi pada saat itu Bu Yani masuk ke ruangan itu bersama dua siswa kelas ipa, dan mereka menatap kami dengan curiga.
       
      Agrr. Mereka pasti mengira kami ada apa-apa. Uhh, lalu aku melepas tangan kanan Nadia. Nadia buru-buru pergi dari ruangan itu dan ninggalin aku sendirian.
      Aku tercenung dari ruangan perpus itu. Alih-alih mau ngejar Nadia tapi gak jadi. Buat apa juga ngobrol ama  cewek itu, nanti apa kata dunia. Setelah dari perpus aku ke ruangan basket dan nemuin  Rahman dan Agus yang dah berkali-kali ngebel aku.
         
         “Lama amat Dit ?, hampir aja posisimu diganti Samuel !”
         “Ada masalah dikit di perpus, tapi tenang aja, sekarang udah gak ada  !” kataku sambil mesem dan merebut bola basket di tangan Agus. Aku senang kepalaku yang seperti dibor pusingnya dah ilang, aku udah merasa normal,  aku udah gak mendengar suara-suara itu lagi. Dan aku berharap selama nya nggak akan mendengar suara itu lagi. Apalagi suara hati Nadia atau siapapun.

     “Nadia, Nadia..”  aku tidak berhenti menyebut nama Nadia. Aku merasa shock aja. Aku nggak nyangka, Nadia sudah nggak ada.
       
         “Dit, pulang yuk ! mendung !”  ujar Rahman sambil meneplak semut yang menjalar di pahanya. Di pemakaman banyak semut merayapi tanah .
       
        “ Kamu nangis pun gak akan bisa ngehidupin Nadia !”  tambah Agus sambil  menjagklong tas sekolahnya.
      
     Aku masih terisak. Aku nggak ingin nangis. Sungguh nggak ingin terlihat seperti itu. Tapi aku  gak habis pikir kenapa Nadia memilih memotong nadinya demi untuk keluar dari masalahnya.
  
       “Dit ! aku mulai muak sama kamu, Nadia juga siapa kamu ! di sekolah gak ada yang peduli ama dia kenapa juga kamu kayak orang stress aja ! memagn kematiannya itu bikin kita miris, tapi itu pilihannya !”  khotbah Agus yang mulai kalap, karena aku nggak mau ninggalin pemakaman Nadia.
  
       Aku mulai sadar diri siapa diriku. Aku menatap Agus dan Rahman dan bangkit berdiri. Betul kata Agus, aku memang  bukan siapa-siapa Nadia. Nadia juga benci diriku. Aku  kemarin mendengar suara hati Nadia yang terakhir, tapi aku menutup mata hatiku, aku tidak tergerak untuk  membantu nya. Aku terlalu sombong untuk mau menjadi temannya. Hati kami sudah beku oleh keadaan sekitar. Yang dipikirkan Cuma gadget, teman satu level, geng sendiri  dan juga kesenangan sendiri. Tak pernah mengerti derita orang lain. Orang seperti Nadia memang tidak bisa merubah kami, terlalu sulit merubah aku, seharusnya Nadia tidak pedulikan tingkah kami dan aku yakin dia pasti lebih bahagia di sekolah ini kalau tidak memikirkan kami yang sering memandang sinis dan sebelah mata  padanya.



>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
cerpen ini terinspirasi lagu SUARA (berharap)  oleh hijau daun

Friday, 17 January 2014

Ayo Dolanan

Ayo Dolanan
Santi berusaha mempertajam pendengarannya, sayup-sayup dia mendengar suara anak kecil ramai di luar, tepatnya di samping jendela kamarnya. Memang waktu itu kalau santi tahu keadaan diluar, akan terlihat sinar purnama yang indah bercokol anggun di langit. Pohon kelapa di samping rumah santi  berdiri dengan tegak, seolah menantang bulan itu dengan sombongnya.  Suara jangkerik mengerik karena sepinya malam itu. Jam satu tengah malam, santi sebenarnya dia senang, karena ia terbangun dari tidurnya.  Alarm hpnya membantu membangunkannya dari mimpi indahnya. Yah, dia harus belajar untuk menghadapi ulangan minggu depan. Dan ia juga ingin sholat tahajud. Ia ingin berdoa agar diberi kelancaran dan kesuksesan menghadapi ujian. Kata orang waktu itu sangat baik untuk memanjatkan doa karena biasanya doa-doa akan terkabul.
          “Yok, prokonco dolanan ing jobo, padang wulan, padangae koyo rino...rembulane sing awe-awe ngelingake ojo podo turu sore (ayo teman bermain di luar, terang bulan, bulannya yang terang, mengingatkan kita jangan tidur sore)...
          Lagu itu..nyanyian itu...suara anak kecil ramai di luar...sungguh menggelitik rasa penasaran santi. Ingin sekali ia membuka jendela, dan melihat siapa saja yang berada di luar. Tapi pada jam  satu  malam, apakah itu suara Udin, Rahma dan anak kecil tetangga sebelah. Masa sih jam segini ada anak kecil masih bermain di luar,.apakah itu suara hantu. hii,..Santi  bertanya-tanya dalam hati. Ia salah satu orang yang tidak percaya dengan hantu. dan dia adalah termasuk cewek yang pemberani. Sering dia pulang sekolah  melewati kuburan atau tempat yang dikira angker, karena ia memang lewat jalan itu pulang sekolah sore. Dan ia ingin sekali membuka jendela kamarnya. Suara itu sangat dekat, yach di samping kamarnya.
          “Santi, yok dolanan karo aku !”
          Hah, santi terperanjat, suara anak kecil memanggil namanya.  Santi merapat di jendela. Ia pasti salah dengar. Bagaimana mungkin ada anak kecil memanggilnya di luar. Suara itu bening banget dan seperti angin yang lewat saja. Santi mendekap mulutnya sendiri. Ia ingin mendengar lagi. Mungkin suara anak perempuan  yang memanggilnya itu akan terdengar lagi. Hening banget malam itu,  sudah sepuluh menit Santi terpekur menempel di dinding dekat jendelanya. Huff, ia menghela nafas panjang. Yach tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Ia menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada apa-apa. Mungkin ia masih terbawa suasana mimpinya tadi. Santi  menarik kunci jendela kamarnya. Ia membuka lebar-lebar jendela kamarnya. Angin dingin langsung menampar wajahnya. Seperti dugaanya, tidak ada apa-apa di luar. Hanya angin semribit. Hanya pemandangan malam yang terang bulan.  Tidak ada bau bunga mawar atua kenanga. Mana hantunya tidak ada. Haha..santi ngikik sendiri. Yang ada di kejauhan somad, bujangan tukang ronda sedang berjalan keliling kampung buat meronda. Ia segera menutup jendela, takut somad yang genit itu akan melihatnya. Santi kemudian bangkit dari kamar dengan ceria, ambil air wudhu, sholat dan lalu belajar dengan tenang, sampai jam tiga dia lalu tidur lagi.
          Esok, harinya santi bercerita tentang pengalamannya pada Winda dan Eka. Yach,  dua sahabatnya di sekolah itu  tentu saja bergidik mendengar cerita itu.
         “Ya  ampun, itu hantu sin, itu hantu anak zaman dulu, mereka itu anak-anak kecil yang jadi korban perang, kamu tahu kan di dekat rumah kamu ada bangunan tua, konon itu keraton kepala desa kampung kita zaman dulu,” kata winda dengan muka pucat.
         “Iya, atau mungkin itu  hantu anak yang disiksa orang tuanya. Konon beberapa tahun yang lalu ada anak yang meninggal mengenaskan, disekap dalam ruangan dan tidak dibolehkan bermain, pokoknya sadis banget itu orang tua,”  ujar Eka sambil menempel di dekat Winda.  Mendengar cerita santi saja ia sudah takut apalagi kalau dia mengalami sendiri, “Kalau aku jadi kamu sin, akiu  tidak mungkin akan membuka jendela itu dan yang pasti aku akan ngacir lari ke kamar ibuku..”
          “haha..aku malah penasaran ingin bertemu hantu kecil itu kayak apa rupa mereka..” santi malah ketawa ngakak. Ia senang karena berhasil membuat temannya itu ketakutan.
          “Jangan sin, please kamu jangan ladenin hantu itu, aku gak ingin kamu dibawa hantu kecil itu...” kata winda.
          Santi hanya tersenyum saja waktu itu.  Mana mungkin ia dibawa hantu. ada-ada saja winda. Dan istirahat telah selesai. Santi, Eka dan winda kembali ke kelas mereka.
#############
          “aku melu  aku melu dolanan, yo konco jo podo ngilang, oyak- oyaan sopo sing menang, menang kalah ojo podo jedoaan ( aku ikut, aku ikut bermain, ayo teman jangan menghilang, ayo kejar-kejaran, menang atau kalah jangan bertengkar)
          Santi tersentak. Lagu itu, nyanyaian anak-anak itu. Tepat waktu ia terbangun jam dua malam. Suara anak-anak yang ribut sedang bermain kejar-kejaran di luar terdengar lagi. Suara cekikian dan juga riuh anak-anak bermain. Jantung santi berdebar. Sial, mereka itu mengganggu belajarnya saja. Sekarang ia sedang berkutat dengan rumus matematika yang sulit. Tiba-tiba saja mereka ,suara itu datang. Santi lalu bangkit dari meja belajarnya. Kursinya ditarik. Ia mendekati ke jendela. Ia lalu membuka jendela kamar. Dan ia tercengang. Ia melihat di luar ada lima anak kecil sedang berlarian, ada yang matanya ditutup di balik pohon kelapa itu. Tiba-tiba  anak kecil laki-laki memakai ikat kepala dan yang perempuan memakai kain yang dililit di dada itu menengok ke arah santi. Mereka  berhenti bermain.
          “ayo dolanan ?”  ajak mereka pada santi sambil tersenyum. Wajah mereka polos dan nampak gembira.
          Santi terpekur. Ia merasa makin penasaran. Siapakah mereka. apakah mereka hantu. santi tidak percaya. Ia kemudian naik jendela dan keluar lewat jendela kamarnya.
          “Siapa kalian ?” tanya santi mendekati mereka.
          Anak kecil itu tidak menjawab. Mereka berteriak riang karena santi akan ikut bermain dengan mereka. lima anak kecil mengelilingi santi. “sekarang kamu yang bermain ?” kata anak laki-laki itu. Lalu tangan santi diseret. Santi tidak menolak. Ia diam saja. Tangan itu sangat dingin seperti es. Mereka membawa santi ke bangunan rumah. Mata santi ditutupi oleh kain warna merah. Lalu ia mendengar anak kecil itu berhitung dan mereka pergi semua dari tempat itu. Santi membuka kain itu ketika ia tidak mendengar suara. Kemana  anak kecil itu. angin berhembus sangat dingin. Suara burung malam bersiul di batang pohon kelapa.
          “Dimana kalian ?”
          Santi berjalan dengan heran. Ia berada di tempat aneh. Tempat yang gelap. Dengan pohon-pohon merambat yang besar.
          “Aku disini,”  lima anak itu tiba-tiba muncul dari balik pohon saman raksasa itu. Dalam cahaya remang-remang, santi  melihat baju anak-anak itu seperti terkoyak berlumuran darah. Bau amis menyeruak hidungnya. Wajah lima anak itu putih pucat. 
          Santi ingin lari dari tempat itu. Ia takut sekali. Ia ingin pulang. Bukankah ia harus belajar untuk ulangan besok.
          “Kamu tidak boleh pulang, kamu harus terus bermain dengan kami,..bermain itu sangat menyenangkan,” kata anak perempuan yang berambut panjang  sepantat itu yang tiba-tiba menangis. Tiga anak kecil lainnya berjalan di belakang gadis itu. “Giliran kamu, kamu kalah, kamu harus main lagi,” kata anak itu sambil terus menangis sesenggukan dan  mendekat pada santi. Sinar bulan yang remang-remang memperlihatkan mata gadis itu tanpa kornea. Gadis itu mendekat dan mencengkeram mata santi dari belakang. Santi meronta tapi ia terpaku di tempatnya, kakinya tidak bisa digerakkan. Ia berteriak sekuat tenaga dan ia hanya bisa berteriak tanpa suara.

(tamat.)  22 Apr. 12

Wednesday, 8 January 2014

Prajurit Hujan

cerpen motivasi judul prajurit hujan


“Hui..Huiiiiiiiiiiiiuuu !!”  nampak Martono meniup seruling dari daun kelapa itu. Suara itu adalah morse buat  prajurit hujan yang lain. Martono memanjat batang pohon yang sebesar pahanya. Gerakannya cepat dan lincah bagai kera. Rupanya dia sering memanjat pohon, tidak sangsi lagi, ia jago naik pohon.
        Yah. Mereka sedang main-main meskipun sudah jam delapan, dan tidak dibilang pagi lagi. Anak-anak desa hujan itu masih belum masuk ke kelas. Sekolah hujan terhampar di tengah ladang, dikelilingi padang ilalang yang luas, dengan daun berwarna hijau kekuningan,  di langit awan mendung bergulung, pohon-pohon memanjang di pinggir dan di belakang sekolah, gerombol rumput dan semak, membuat sekolah bercat kuning  pucat yang nyaris roboh itu menjadi  lukisan alam yang hidup, dan indah.
       Jarim dan  rohim lebih dulu sampai ke tempat Martono. Nafas mereka tersengal seperti serdadu bodoh yang baru dikejar musuh. Mereka memakai pakaian lusuh, dan  itu dinamakan seragam sekolah. Warna biru yang pudar. Tak lupa mantel plastik bergantung di pundak mereka.
      “Dimana Zahro sudah datang belum ?” kata Jarim sambil berkacak pinggang dan menatap ke Martono di atas pohon. Kepalanya yang tanpa rambut, membuat dia dikagumi oleh kelompoknya dan bagai bos gayanya. Lalu ia pun menggigit daging kelapa yang disimpan di sakunya. Itu adalah makanan bekal sekolahnya. Lumayan buat mengganjal perut yang pagi belum disi.
      “Itu dia..?”  Martono di atas batang pohon dan berbaring bagai ular itu meneropong sosok perempuan kecil dengan jilbab. Perempuan kecil itu mendekati mereka. langkahnya cepat. Zahro mengibaskan ilalang yang menghalangi jalannya. Ia memakai tas buntut yang diselempangkan di dada.  Kaki yang dibungkus sepatu but dan juga payung bermotif bunga yang ditutup. Wajahnya tegas dan ia terlihat anak yang cerdas.
       “Buubuugguugunauuuug !” sapa Zahro. Ya, zahro gadis kecil yang bisu itu seolah memberitahu. Martono melorot dari pohon langsing itu. Itu adalah kegiatan favoritnya. Ia sudah bergabung dengan Jarim dan Rohim. Mereka bertiga mencoba menterjemahkan setiap suku kata yang terbang dari mulut zahro.
        “Apa ? mbah guru tidak datang ? dia sakit lagi kah ?”  ujar si paling gendut Rohim.
        Zahro menggeleng. Lalu ia menunduk. Wajahnya seperti suasana gerimis yang sering melanda kawasan desa mereka. lalu keempat anak itu  menghela nafas.  Mengeluarkan kegundahan dan juga rasa yang mengganjal, dan kerinduan sejak mbah guru tidak ada.
        Mereka merindukan sosok itu. Sosok wanita tua, dan sangat pantas di panggil nenek. Sosok dengan jilbab lebar dengan senyum menghias di gigi ompong, dan wajah berkerutnya naik sepeda unta, yang selalu datang terlambat tapi selalu dinanti itu. Sosok yang riang gembira dan bagai mereka adalah teman.
        Lalu mereka terduduk lemas, di atas rerumputan basah, memandang langit di atas sekolah hujan yang  menghitam. semangat sekolah sudah terampas, bagi mereka sekolah adalah mbah guru, dan meskipun di sekolah itu banyak guru yang baik dan mumpuni, tapi di hati mereka tetap mbah guru lah yang selalu memimpin dan menjadikan mereka mempunyai khayalan. Ilusi-ilusi kalau masa depan akan lebih baik. Dengan sekolah kamu akan dihormati. Dan lebih dari itu ada segudang ilmu yang membuat kamu tidak menjadi culas tapi juga berbudi. Angan mereka membumbung bagai asap  cerobong yang dihembus angin ladang. Angan tentang mbah guru.  Lima bulan yang lalu, mereka tidak kenal mbah guru.
         Saat pelajaran Bu Nanik, itulah sosok tua itu muncul. Mengganti Bu Nanik yang katanya sedang ikut pelatihan kurikulum di kota selama seminggu. Memang sosok mbah guru tidak sering tampil di sekolah hujan. Dia seolah tersembunyi. Bagai lukisan usang di gudang. Dan bahkan Martono mengira mbah guru itu hanya seorang pesuruh. Nyatanya dia seorang guru. Guru yang sudah lama sekali.
           Dia betul-betul sosok yang berbeda. Gayanya yang lugu dan sangat suka tertawa. Mbah guru mengenalkan bahasa indonesia lewat cerita-cerita dongeng. Betapa seluruh guru muda heran, dimana kelas yang biasanya ramai mendadak sunyi senyap seperti kuburan. Dimana murid-murid pergi, ternyata mereka sedang asyik mendengarkan kisah mbah guru, tentang perahu pembangkang nabi nuh yang karam, tentang nabi musa yang hebat, semua anak seperti tersihir dan juga tergelak oleh dongeng kancil yang cerdik. Bahkan empat anak yang istimewa di kelas hujan. Spesial dalam arti minoritas itu. Zahro yang bisu mendadak tidak merengut di sekolah itu, ia bisa tertawa dalam suaranya yang aneh,  Martono yang bandel jadi penurut, jarim yang sombong jadi suka membela teman yang lemah dan Rohim yang penakut menjadi bisa lepas dari tasnya. Siapa yang tidak mencengangkan. Selama empat tahun rohim belajar di bawah meja ataupun selalu kepalanya ditutupi tas. Yach, ia takut sekolah. Ia takut guru. Tapi semenjak mbah guru datang  mengajaknya ngobrol dan mengejarnya waktu lari sembunyi ke luar kelas, ia menjadi rohim yang baru. Betapa  anak-anak di sekolah hujan tidak bisa melupakan peristiwa itu. mereka melihat keributan itu, bagaimana mbah guru lari dengan rok lebarnya ia memanjat tembok setinggi satu meter demi untuk mengejar rohim.
            Lalu pelajaran berhitung dengan mengejar belalang di semak-semak adalah favorit anak kelas hujan. Mereka betapa riangnya berlari, tergopoh-gopoh, berteriak-teriak, berlomba, lalu menghitung belalang itu yang dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kadang-kadang wajah mereka nampak berbalur tanah becek, berebutan belalang dan baju mereka kotor, dan semua anak wajib menertawakan keadaan mereka sendiri waktu itu. Dan mereka merasa itulah wisata bermain yang tidak akan mereka lupakan.
         “Kalian tahu ksatria pandawa, mereka hebat karena digodok dan ditempa berbagai cobaan, dan kalian tahu sekolah di daerah hujan tidaklah mudah. Karena itu hanya  sedikit yang bertahan di sini, setiap pagi sampai siang di sini hujan. Bahkan banjir sudah menjadi bayangan yang nyata. Karena itu ibu namakan kalian itu prajurit hujan. Seorang prajurit tidak gampang menyerah bukan, kalian ke sini naik perahu atau menyusuri jembatan sungai, bisa-bisa juga berlari dalam kejibak hujan, kedinginan, tapi pasti ada cara mengatasi itu. Yang penting kalian mau sekolah bukan ?”
          Semua anak saling pandang. Mereka senang dengan sebutan itu. Yach mereka adalah prajurit. Prajurit hujan. Angan mereka tiba-tiba terhempas ketika mereka mendengar denting lonceng masuk sekolah dibunyikan, hujan mengguyur kepala rohim, Jarim, martono dan Zahro. Mereka enggan beranjak dari tempat itu, meskipun tetes hujan membuat kulit mereka dingin menggigil. Mereka mendengar Pak Anwar memanggil nama mereka. Pak Anwar  dengan kaki  agak pincang, terlihat menghampri empat anak itu lalu  dia diam membatu dengan pandangan tidak mengerti. Payung hitam lebar yang digenggamnya menunjukkan wajah bijaknya.
          “Kalian harus masuk ke kelas ?”
          Rohim, Jarim, Martono, zahro tetap membeku. Air hujan mengaliri wajah mereka. dan mereka tidak berusaha menghapusnya. Mereka merasa masih prajurit hujan. Dan tidak gampang menyerah oleh hujan.
          “Meskipun tidak ada mbah guru, kalian harus tetap masuk ke kelas, sekarang !” tegas pak anwar.
          Suara pak anwar mengalahkan halilintar. Membuat anak itu bergidik lalu seperti anak yang sudah lemah, anak itu mengekor di belakang pak anwar. Mereka masuk ke kelas dan di kelas teman mereka sudah menanti. Pak anwar menjelaskan alasan mbah guru tidak ada di sekolah hujan akhir ini.
         “Mbah guru sebenarnya tidak sakit, ia mengalami kepikunan, ia sudah tua, dan seharusnya orang setua dia tidak bekerja,”  kata pak anwar dengan suara kharismatiknya. Seisi kelas sedakep di meja dan menatap pak anwar tak berkedip.
       “Tapi kemarin dia bisa bekerja, kenapa dia tidak boleh bekerja ?”  tanya Martono. Ia merasa ada ketidakadilan di sekolah hujan. Atau di dunia ini ada yang telah berbuat tak adil pada mbah guru, dan ia tak rela.
      “Ehm, sebenarnya oleh pemerintah mbah guru tidak boleh kerja, usianya sudah mencapai pensiun, tapi karena ini sekolah swasta dan karena kebutuhan ekonomi dia harus tetap mencari uang, tapi akhir ini  ia mengalami musibah, bahkan dia tidak tahu hari dan selalu bicaranya diulang-ulang,”
        Rohim, martono, jarim, Zahro dan prajurit hujan yang lain mulutnya ternganga. Penjelasan pak anwar seperti tidak bisa diterimanya, atau saat itu mereka tidak bisa menangkapnya. Bagi mereka, mereka harus bertemu mbah guru. Dan pak anwar bersedia mengantarkan prajurit hujan mengunjungi guru tua itu. Para murid bersorak gembira.
       “Tunggu dulu, kalian jangan gembira dulu, kalian harus memberikan sesuatu untuk mbah guru, Rohim katanya kamu ingin mempersembahkan tulisan yang pernah mbah guru berikan yang sudah kamu hafal, boleh kami mendengarnya..”
         Rohim tersenyum. Meski nampak ragu dia maju ke depan. Anak yang paling penakut itu kini bisa dengan langkah panjang maju di depan kelas. Ia mengambil kertas secuil dari saku bajunya. Anak-anak tergelak sejenak oleh gayanya yang jenaka. Yah, ternyata meskipun ia sudah berusaha menghafal kata-kata yang diberikan mbah guru, ia masih belum juga hafal. Lalu ia membacakan tulisan itu. Dan tulisan yang dibaca Rohim itu membuat pak anwar trenyuh, dan ia berusaha menyembunyikan matanya yang semerbak memerah karena ingin menangis.

       Hatiku...jujurlah...
  Kalau engkau tak sanggup menjadi cemara yang kokoh di puncak bukit ... jadilah saja belukar yang teguh di tepi jurang...  Belukar itu senantiasa istiqomah dalam perjuangannya untuk hidup.  Ia belajar dari kesehariannya untuk mendewasakan batangnya,  batangnya yang menyanggahnya untuk tidak masuk ke dalam jurang...  Hatiku...ketahuilah!!!  Ternyata untuk menjadi belukar saja itu tidak mudah!!!  Belukar harus ikhlas agar ia tak iri pada cemara...  Belukar harus tawadhu agar ia tak sombong pada rumput...  Belukar tetap belukar sampai ia bisa berjumpa dengan Penciptanya...  Kalau engkau tak sanggup jadi belukar...jadilah saja rumput,  tetapi rumput yang senantiasa memperkuat pinggiran jalan...  Kalau engkau tak sanggup menjadi langit...jadilah saja bumi,  tetapi bumi yang setia dan ikhlas untuk dipijaki oleh setiap manusia.  Tidak semua insan sanggup berbuat seperti pengemis yang tawadhu',... izzahnya tinggi walau orang lain merendahkannya... karena ia mempunyai HATI sehingga dekat dengan sang Robbi...  --------

 TAMAT

Sumber tulisan hatiku jujurlah dari=dadung .net


(PKT)

tag
kumpulan cerpen motivasi judul prajurit hujan
kumpulan cerpen pendidikan judul prajurit hujan
kumpulan cerpen online judul prajurit hujan

Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Entri Populer

  • KUMPULAN SAJAK MASIH BISA TERTAWA (4)
  • MO GOK (KUMPULAN MOTIVASI GO-KILL)

Blog Archive

  • ▼  2015 (35)
    • ▼  October (1)
      • KARENA WAJAH KITA TAK SAMA
    • ►  September (3)
    • ►  August (4)
    • ►  July (23)
    • ►  May (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (94)
    • ►  December (8)
    • ►  November (6)
    • ►  October (12)
    • ►  September (5)
    • ►  August (6)
    • ►  July (12)
    • ►  June (9)
    • ►  May (7)
    • ►  April (3)
    • ►  February (12)
    • ►  January (14)
  • ►  2013 (29)
    • ►  December (16)
    • ►  November (8)
    • ►  September (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2012 (25)
    • ►  December (4)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (4)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (9)
  • ►  2011 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  September (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  January (1)
Betapa mudah dan tak sadar menjadi sombong dan tidak iklas dalam beramal (kata mutiara)

Powered by Blogger.
Copyright 2013 CERPEN 5M - All Rights Reserved
Template by Mas Sugeng - Powered by Blogger